STL, Quinta-feira, Des 06,
2007
Banyak kalangan menilai, keputusan
Perdana Menteri (PM) Xanana Gusmaõ untuk
menempatkan Julio Thomas Pinto, MA memimpin Departemen
Pertahanan Negara pada kabinet pemerintahannya merupakan
pilihan tepat. Konon, pilihan Xanana itu mendapat
dukungan kuat dari Panglima F-FDTL Brigjen Taur
Matan Ruak.
Tak berlebihan memang. Jauh sebelumnya
Julio Pinto telah menunjukan kapasitas intelektual
maupun penguasaan masalah politik dan militer melalui
media massa (cetak dan elektronik). Pemikiran-pemikirannya
diungkapkan melalui media massa selalu tajam dan
kritis, dan situasional. Ia tidak hanya menampar
tetapi selalu menawarkan solusi penyelesaian. Oleh
sebab itu cukup layak media massa menyebutnya sebagai
pengamat politik dan militer. Sebuah bidang yang
tidak semua orang bisa.
Karier lelaki kelahiran Mai Mata
5 April 1974, Desa Afalokai, Sub Distrik Baguia,
Distrik Baucau ini, tidak bertumbuh dari dunia politisi
tetapi dari lingkungan kampus. Ia seorang pengajar
bidang politik pada Universidade Dili dan Universidade
da Paz, Dili. Kalau sekarang ia dipercaya memimpin
salah satu departemen kunci itu karena memang kapasitas
intelektualnya.
Ketika Presiden Horta menjatuhkan
pilihan pada AMP untuk membentuk pemerintahan, Julio
Pinto sama sekali tidak pernah berpikir bisa masuk
ke kabinet. Jauh sebelumnya pun tidak. “Kaget
dan tidak percaya ketika Agio Pereira menelepon
saya, katanya PM Xanana menginginkan saya duduk
sebagai Sekneg Pertahanan,” ujar Julio Pinto
diruang kerjanya, pekan lalu.
Kendati demikian, ia tidak langsung
menerima. Ia menyarankan PM Xanana untuk berkonsultasi
terlebih dahulu dengan petinggi F-FDTL. “Jawaban
PM Xanana bahwa, para petinggi F-FDTL setuju dengan
pencalonan saya. Tetapi kepada beliau saya mengatakan,
kalau saya dicalonkan dari parpol saya tolak. Saya
lebih setuju tampil sebagai seorang independen,”
ujar Julio Pinto mengutip pembicaraan dengan PM
Xanana beberapa bulan lalu.
Julio Pinto merupakan jebolan S-2
(master) dari Universitas Indonesia Angkatan 2002,
yang mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation sebuah
institusi nirbala di Amerika Serikat.
Selama memimpin Departemen Pertahanan,
ia ingin mengubah institusi F-FDTL menjadi sebuah
institusi militer yang tangguh dan disegani. Untuk
itu, langkah pertama yang dilakukan adalah mengeluarkan
para petinggi F-FDTL dari kondisi tersiksa, dimana
selama 5 tahun pemerintahan Fretilin mereka bekerja
seperti di dalam kontainer.
“Kasihan, mereka sudah menderita
selama 24 tahun, hidup di hutan. Kini, saya tidak
ingin mereka tetap di dalam kontainer. Saya akan
membawa mereka keluar dan bekerja dalam kantor yang
sesungguhnya. Saya akan memperkuat dan meningkatkan
institusi militer ini menuju militer profesional,”
kata Julio.
Julio Pinto adalah anak ke-3 dari
6 bersaudara, buah hati Thomas da Costa Pinto dan
Marcelia Amaral. SD dan SLTP selesaikan di Baguia,
SLTA di SMA Negeri 1 Baucau dan selesai tahun 1993.
Kemudian melanjutkan pendidikan tinggi pada Fakultas
Ilmu Social dan Politik (FISIP)/ Jurusan Ilmu Pemerintahan,
Universitas Muhamadiyah Madang (UMM), Jakarta.
Selama di UMM, ia aktif dalam gerakan
mahasiswa dan terlibat dalam berbagai aksi mahasiswa
pro-reformasi di Malang dan Jakarta, bahkan ikut
dalam aksi mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR tahun
1998 untuk menggulingkan rezim Soeharto.
Selama mahasiswa, ia pernah menjabat
Ketua Bidang Panalaran Himpunan Mahasiswa Jurusan
Ilmu Pemerintahan UMM (periode 1994-1995), Ketua
Bidang Penalaran Senat Mahasiswa FISIP-UMM (tahun
1995-1996) dan Ketua Umum Senat Mahasiswa Perguruan
Tinggi (tahun 1997-1998). Ia menyelesaikan studi
S-1 di UMM tahun 1988 dengan skripsi “ Peran
Komnas HAM dalam Penegakan HAM di Indonesia: Studi
Pendidikan dan Sosialisasi HAM”.
Kemudian pendidikan masternya di
Universitas Indonesia dengan program ilmu politik
pada tahun 1999, dan selesai pada 20 Februari 2002
dengan tesis “Mobilisasi dan Demobilisasi
FALINTIL: Tentara Perjuangan Kemerdekaan Timor Leste”.
Selama di UI, ia sering menulis opini di Kompas,
Media Indonesia, Majalah Gatra, GAMA, dan Panji
Masyarakat.
Oktober 2001 –April 2002,
ia menjadi Asistant Educational Officer UNTAET Jakarta.
Usai masternya ia kembali ke TL dan menjadi dosen
di Fakultas Ilmu Social dan Humaniora di Universidade
Dili (UNDIL) (Juli 2002 – Maret 2004). Selama
di UNDIL ia menjabat sebagai Direktur Centro Investigacao
Cientifica e Estudos Estrategicos UNDIL hingga Februari
2004. Maret 2004 menjadi dosen di Universidade da
Paz (UNPAZ) dan menjabat sebagai Purek 1 (Bidang
Akademik) dan merangkap sebagai Director Centro
de Estudos Estrategicos e Paz (CePAZ), sebuah lembaga
penelitian, pelatihan, pengkajian dan penerbitan
UNPAZ hingga Juni 2005.
Selama menjadi dosen telah menulis
dan partisipasi dalam seminar keamanan regional
serta terlibat dalam penelitian diberbagai bidang
yakni keamanan, social dan politik. Antara lain,
famplet berjudul East Timor Defense and Security
2002, dengan bantuan financial dari NDI (National
Democratic Institute for International Affairs),
analisis dan menulis laporan penelitian dari NDI
dengan judul “ A Peaceful Future” 2002,
menulis famplet dengan judul “Special Police
and F-FDTL” 2003, pernah juga melakukan penelitian
dan menulis laporan dnegan judul “The local
government role in the NGO Advocacy in East Timor”
April-Mei 2004.
Selain itu, dirinya juga pernah
berpartisipasi dalam Security Sector Reform Meeting
di Bangkok, Thailand pada September 2004, serta
pernah berpartisipasi dalam pelatihan Thesis Review
Guideline Training for Timor Leste’s University
Lectures, di Jakarta-Indonesia. Pernah menjadi ketua
peneliti dalam penelitian Civil Society Index (CSI)
di Timor Leste. Termasuk pernah melakukan penelitian
dan menulis laporan berjudul “Defense and
Security Treat Post UNMISET in East Timor. Terakhir
menulis buku berjudul “Keamanan Nasional :
Ancaman Internal dan External di Timor Leste”
yang diterbitkan oleh East Timor Institute for Security
Studies (ETISS). Gantry Meilana